Tradisi Ngamben Dalam Membentuk Karakter Religius Masyarakat Di Desa Banyumulek
DOI:
https://doi.org/10.57215/sktp.v1i2.8Keywords:
Tradisi ngamben,, karakter,, religiusAbstract
Indonesia memiliki ragam bahasa dan budaya dalam setiap daerah untuk memperkaya khazanah budaya, memperkuat identitas unik setiap kelompok, mendorong toleransi, serta menciptakan harmoni sosial. Keberagaman ini memungkinkan manusia memahami berbagai perspektif, memupuk empati, dan menjaga warisan sejarah yang diwariskan antargenerasi. Desa Banyumulek merupakan suatu desa yang ada di Kabupaten Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan sebagai desa destinasi wisata kerajinan tangan yaitu Gerabah. Desa tersebut memiliki suatu tradisi Ngamben yang dilaksanakan dalam satu tahun sekali sebagai pondasi kohesi sosial. Dengan adanya tradisi ini, masyarakat merasakan dampak yang segnifikan dalam kehidupan sosial. Sehingga terjalin hubungan yang harmonis dan solidaritas yang kuat.
Berdasarkan fakta yang telah dipaparkan yaitu tradisi Ngamben dapat membentuk karakter religius masyarakat dengan sistematis sebab pembiasaan nilai yang terkandung di dalam pelaksanaannya seperti menjalin silaturrahmi dan saling memberi satu dengan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bagaiama tradisi Ngamben dapat membentuk karakter religius masyarakat di Desa Banyumulek.
Penelitian ini, termasuk jenis penelitian Etnografi dengan pendekatan Kualitatif untuk menganalisis dan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang tradisi Ngamben dengan memepelajari nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut. Objek penelitian ini adalah kehidupan masyarakat Banyumulek setelah diimplementasi tradisi Ngamben. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis menggunakan teknik analisis interaktif model Miles dan Huberman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Ngamben bisa membentuk karakter religius masyarakat Banyumulek yang merupakan perwujudan dari pengamalan ajaran agama dan nilai budaya atay tradisi agar bisa menata kehidupan bersama supaya harmonis dan sejahtera
References
Ansari. (2024). Islam Nusantara: Keanekaragaman budaya dan tradisi. Jurnal Lisan Al-Haal, 18(2), 226–247. https://doi.org/10.35316/lisanalhal.v18i2.226-247
Arikunto, S. (1998). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. Rineka Cipta.
Bintari, N., & Dermawan, C. (2016). Peran pemuda sebagai penerus tradisi sambatan dalam rangka pembentukan karakter gotong royong. Jurnal Pendidikan Ilmu Sosial, 25(1), 57–76.
Fauzan, R., & Nashar. (2017). Mempertahankan tradisi, melestarikan budaya: Kajian historis dan nilai budaya lokal kesenian Terebang Gede di Kota Serang. Jurnal Candrasangkala, 3(1), 1–9.
Jalaluddin. (2018). Psikologi agama: Memahami perilaku keagamaan dengan mengaplikasikan prinsip-prinsip psikologi. RajaGrafindo Persada.
Kusumastuti, A. M. A. (2016). Metode penelitian kualitatif. Lembaga Pendidikan Soekarno Pressindo.
Luthfi, K. M. (2016). Islam Nusantara: Relasi Islam dan budaya lokal. Jurnal LP2M IAIN Surakarta, 1(1), 1–12.
Moleong, L. J. (2015). Metode penelitian kualitatif. PT Remaja Rosdakarya.
Mujahidah, N., & Maddatuang. (2022). Peran serta masyarakat dalam melestarikan tradisi Mappadendang dalam tinjauan geografi budaya. Jurnal Lageografia, 20(2), 373–384.
Mustari, M. (2016). Nilai karakter: Refleksi untuk pendidikan. RajaGrafindo Persada.
Nur Haris Fenedi, D. P., & Pratiwi, D. (2023). Pendidikan karakter. Sada Kurnia Pustaka.
Nuraisyah, F. (2021). Mitoni sebagai tradisi budaya dalam masyarakat Jawa. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 5(2), 170–180.
Pemerintah Desa Banyumulek. (2020). Buku profil Desa Banyumulek 2020.
Sugiyono. (2013). Metode penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Alfabeta.



